24.12.18

Theories Of Personality






Hello Folks! jadi berhubung aku adalah seorang student yang sedang mendalami ilmu psikologi, maka thread kali ini aku akan ngebahas tentang beberapa teori yang berkaitan dengan jenis-jenis kepribadian. Let's check this out!


THEORIES OF PERSONALITY

TEORI-TEORI KEPRIBADIAN

1.      Teori Sifat (Trait Theory)

Sifat dapat didefenisikan sebagai pola perilaku baik dari cara berpikir, bertindak, maupun berperasaan yang relatif konsisten dan stabil dalam suatu situasi. Teori ini menyatakan bahwa manusia memiliki sifat-sifat tertentu, yakni pola kecenderungan untuk bertingkah laku dengan cara tertentu.

·         Allport’s Trait Theory
Gordon Allport (1937-1961), seorang psikolog dan ilmuwan filsafat percaya bahwa suatu kepribadian dapat dilihat berdasarkan nilai dari individu tersebut. Allport membagi sejumlah perbedaan di antara berbagai jenis sifat, yaitu:
1.      Sifat kardinal (cardinal trait). Merupakan karakteristik yang dominan dalam kehidupan seseorang , dan bisa dikatakan sebagai sifat utama. Contohnya, sifat narsis, hedonis, dsb.
2.      Sifat sentral (central trait). Merupakan karakteristik yang kurang mengontrol perilaku individu, namun tidak kalah penting. Contohnya, sifat jujur, ambisius, senang berkompetisi, dsb.
3.      Sifat sekunder (secondary trait). Merupakan karakteristik peripheral dalam individu yang lebih terbatas dan kurang dalam menentukan deskripsi kepribadian. Contohnya, si A yang penyabar, tetapi ketika temannya mengejek orangtuanya maka A menjadi marah meledak-ledak.
            Selain itu, tokoh William Sheldon juga meggolongkan 20 sifat dari hasil korelasi yang ia lakukan yang memiliki 3 komponen, yaitu:
1.      Viscerotonia. Memiliki sifat suka makan enak, santai, tenang, pandai bergaul, toleran, pengejar kenikmatan, lamban.
2.      Somatotonia. Memiliki sifat suka berpetualang, berani mengambil resiko tinggi, agresif, kurang peka, cenderung menguasai, membuat gaduh, dsb.
3.      Cerebretonia. Memiliki sifat tertutup, tidak suka keramaian, memiliki kesadaran diri yang tinggi, senang menyendiri, dsb.
Saat ini banyak tes yang menggunakan 5 faktor bentuk kepribadian yang terdiri dari komponen neuroticism, extraversion, openness, agreeableness, dan conscientiousness. Tujuannya untuk menggunakan informasi yang diberikan untuk orang yang mengikuti tes.


2.      Teori Psikoanalisis (psychoanalytic theory)
Dalam memahami kepribadian manusia, Sigmund Freud membangun konsep yang saling berhubungan dan menimbulkan ketegangan satu sama lain, yaitu Id, Ego, dan Superego.


·         Teori Freud: 3 Tingkat Kesadaran
Ia mengumpamakan tingkat kesadaran sebagai gunung es yang terdiri dari, conscious mind, preconscious mind, dan unconscious mind. Conscious mind menempati ujung puncak gunung es yang berperan sebagai kerja-kerja penting pada pikiran. Tepat di bawah permukaan tersebut terdapat preconscious mind yang terdiri dari ingatan yang saat ini tidak sadar tetapi dapat dengan mudah dibawa ke kesadaran. Lalu, terakhir ada unconscious mind yang menyimpan motif-motif naluriah primitif. Selain itu, unconscious mind mengandung ingatan dan emosi yang begitu mengancam pikiran sadar sehingga mereka telah didorong ke dalam akal bawah sadar melalui proses represi.


·         Teori Freud: Id, Ego, dan Superego
Id. Menurut Freud, id adalah sumber segala energi psikis, sehingga menjadi komponen utama kepribadian. Id didorong oleh prinsip kesenangan, yang berusaha untuk kepuasan segera dari semua keinginan dan kebutuhan. Jika kebutuhan ini tidak puas langsung, hasilnya adalah kecemasan atau ketegangan.
Ego. terbentuk karena id harus menggunakan cara-cara yang realistis untuk memenuhi kebutuhannya dan menghindari masalah yang disebabkan oleh id yang egois dan agresif. Ego beroperasi sesuai dengan prinsip realitas. Ego dapat dianggap sebagai kepribadian eksekutif karena menggunakan kemampuan kognitifnya untuk mengelola dan mengendalikan id dan menyeimbangkan hasratnya terhadap pembatasan realitas dan superego.
Superego. adalah bagian dari pikiran yang menentang keinginan id dengan menegakkan pembatasan moral dan dengan berusaha mencapai tujuan "ideal" kesempurnaan.


·         Teori Freud: Tahap Psikoseksual
Ada 5 tahap perkembangan psikoseksual sebagai berikut:
1.      Oral Stage (lahir-1 tahun)
Sumber kepuasan bayi yang paling awal adalah mulut. Selama tahap oral, bayi mendapat kesenangan dari mengisap dan menelan. Kemudian, ketika dia memiliki gigi, bayi menikmati kesenangan agresif menggigit dan mengunyah.
2.      Anal Stage (1-3 tahun)
Anak-anak belajar seberapa banyak kontrol yang dapat mereka berikan terhadap orang lain dengan otot sfingter anus (anal sphincter muscles) mereka.
3.      Phallic Stage (1-3 tahun)
Selama tahap falus (phallic stage), alat kelamin menjadi sumber utama kesenangan. Menurut Freud, anak mulai menikmati menyentuh alat kelaminnya sendiri dan mengembangkan daya tarik seksual kepada orang tua lawan jenis.
4.      Latency Stage (6-11 tahun)
Di tahap ini minat seksual relative tidak aktif. Energi seksual disublimasikan dan diubah menjadi minat dalam melakukan tugas sekolah, mengendarai sepeda, bermain rumah-rumahan, dan berpartisipasi dalam olahraga.
5.      Genital Stage (11 tahun ke atas)
Seiring datangnya pubertas, ada minat baru untuk mendapatkan kesenangan seksual melalui alat kelamin. Masturbasi menjadi sering dilakukan dan mengarah ke orgasme untuk pertama kalinya. Minat seksual dan romantis pada orang lain juga menjadi motif utama.

Ada beberapa tokoh yang sedikit berbeda pandangan dengan Freud, yaitu Carl Jung, Jung merasa bahwa Freud mengambil pandangan negatif satu sisi tentang sifat manusia, meskipun Jung setuju bahwa pikiran bawah sadar mengandung kekuatan egois, ia percaya bahwa pikiran itu juga mengandung motivasi positif, bahkan spiritual. Pada kenyataannya, karakteristik mendasar dari pikiran manusia menurut Jung adalah bahwa semua elemen penting dari pikiran datang dalam bentuk yang berlawanan.
Tokoh lainnya yaitu, Alfred Adler, Dia setuju dengan Freud bahwa perjuangan untuk mengatasi satu dorongan seksual dan permusuhan penting untuk perkembangan kepribadian, tetapi tidak menjadi faktor yang terpenting. Pada karir awalnya, Adler merasa bahwa perjuangan utama dalam perkembangan kepribadian adalah usaha untuk mengatasi feeling of inferiority dalam hubungan sosial dan untuk mengembangkan perasaan keunggulan atau kebanggaan.
Seperti Jung dan Alder, Karen Horney merasa bahwa pemikiran Freud penting untuk konflik seksual. Bahkan, dia percaya bahwa Konflik bukanlah hasil tak terelakkan dari motif bawaan di dalam id. Dia malah pecaya bahwa konflik berkembang hanya sebagai hasil tidak memadai untuk membesarkan pengalaman anak.


3.      Teori Social Learning

Teori social learning memiliki asal-usulnya dalam tulisan-tulisan tingkah laku Ivan Pavlov, John B. Watson, dan B.F Skinner. Masing-masing teori ini berpendapat bahwa kepribadian tidak lebih dari perilaku yang dipelajari dan bahwa cara untuk memahami kepribadian hanyalah untuk memahami keaktifan pembelajaran.

·         Peran Belajar dalam Kepribadian
Seseorang mengembangkan kepribadian yang memadai jika dia terkena model yang baik dan diperkuat untuk perilaku yang sesuai. Sebaliknya, jika lingkungan tidak memadai, akan menghasilkan perkembangan kepribadian yang tidak memadai. Tokoh dari social learning ini adalah Albert Bandura.

·         Peran Kognisi dalam Kepribadian
Kognisi belajar adalah penentu utama kita untuk menentukan tingkah laku. Orang yang percaya bahwa membantu orang hanya akan membuat mereka kurang mandiri akan menjadi orang yang pelit terhadap yang membutuhkan; orang yang berpikir bahwa dia adalah orang yang membosankan akan bertingkah pendiam dan pemalu.
Self-efficacy adalah persepsi bahwa seseorang mampu melakukan apa yang diperlukan untuk mencapai satu tujuan, baik dalam arti mengetahui apa yang harus dilakukan dan mampu dilakukan secara emosional.

·         Situationism dan interactionism
B.F Skinner memperdebatkan bahwa perilaku ditentukan oleh situasi dimana orang orang menemukan jati dirinya sendiri, bukan sifat di dalam orang itu. Sudut pandang ini dikenal sebagai situationism, menunjukkan bahwa perilaku kita hanya konsisten selama situasi kita tetap konsisten.
Teori social learning menyarankan perbandingan yang konstruktif diantara sifat dan posisi situationism. Solusinya, dikenal sebagai person × situation interactionism, menunjukkan bahwa tingkah laku kita dipengaruhi oleh kombinasi dari karakteristik seseorang dan situasinya.


4.      Teori Humanistik

Teori ini memiliki pandangan psikologis bahwa manusia memiliki kecenderungan bawaan untuk memperbaiki dan menentukan hidup mereka melalui keputusan yang dia buat. Teori ini sulit untuk bersatu dan didefinisikan secara lengkap karna begitu banyaknya ide-ide yang mendasari teori ini.
·         Inner-Directedness dan Subjektifitas
Para humanis percaya bahwa manusia memiliki kekuatan internal, inner-directedness, yang  mendorong mereka untuk tumbuh, memperbaiki diri, dan untuk menjadi individu terbaik. Inner-directedness ini merupakan kekuatan utama dalam perkembangan kepribadian. Kepribadian yang berkembang hanya dapat dimengerti dengan perspektif dari arah dalam ke luar. Bagi kaum humanis satu-satunya realitas adalah realitas subjektif.

·         Konsep Diri
Konsep diri kita adalah persepsi subjektif kita tentang siapa kita dan seperti apa kita. Dari semua pandangan subjektif kita tentang hidup, pandangan tentang diri sendiri adalah yang paling utama. Konsep diri dipelajari dari interaksi kita dengan orang lain. Masalah psikologis muncul dari 3 jenis diri: Pertama perbedaan yang berlebihan antara diri sendiri yaitu pengalaman kita dan diri ideal yaitu diri yang ingin kita capai. Perbedaan yang terlalu jauh menyebabkan ketidaknyamanan atau ketidakselarasan. Kedua, konsep diri yang kurang akurat juga dapat menyebabkan masalah. Jika pandangan kita tentang diri kita tidak cukup kongruen maka kita akan mengembangkan pandangan yang tidak jelas tentang diri kita sendiri. Ketiga, manusia juga menolak kesadaran akan beberapa pengalaman yang merupakan reaksi orang tua dan masyarakat terhadap perilaku kita. 

·         Aktualisasi Diri
Berikut ini adalah orang yang mengaktualisasikan diri menurut Maslow:
-          Orang yang mencapai aktualisasi diri telah mencapai tingkat perkembangan moral yang tinggi dan lebih peduli tentang kesejahteraan teman dan orang lain dibandingkan diri sendiri.
-          Orang-orang ini lebih mementingkan kesejahteraan orang lain tapi tidak bergantung pada persetujuan mereka.
-          Mereka mimiliki pandangan yang akurat, daripada meromantisir, tentang orang atau hidup, namun mereka positif tentang kehidupan.
-          Hidup selalu menantang dan segar bagi orang yang mengaktualisasikan diri. Mereka spontan dan alami dalam tindakan dan perasaan mereka.




Reference

Lahey, Benjamin, B. 2005. Psychology an Introduction. 11th edition. New York : McGraw-Hill Book Company
Sobur, D. A. (2013). PSIKOLOGI UMUM dalam Lintasan Sejarah. Bandung: CV Pustaka Setia.

 
Well, itu aja pembahasan tentang teori-teori kepribadian dari aku, semoga dapat bermanfaat buat kalian. Don't forget to leave a comment!



13 comments: